Masa-masa Jadi Karyawan

Well,..terus terang, menjadi karyawan bukanlah cita-cita awal saya, karena sejak masa SMA saya udah memutuskan ingin kuliah musik. Namun, storyboard berubah, meski saya waktu itu udah diterima di IKJ Jurusan Musik Komposisi, eh beberapa saat kemudian, ada berita saya diterima masuk di Universitas Indonesia. Yah…. cerita klasik dari anak paling tua di keluarga yang pas-pasan, ditambah wejangan orangtua yang “mengharuskan” saya menjadi orang yang berhasil, supaya bisa mendukung orangtua dan menolong adik-adik, maka jadilah saya tinggalkan cita-cita awal menjadi musisi. Saya kuliah hanya dibantu biaya orangtua pada tahun pertama dan kedua saja. Seterusnya, saya cari uang sendiri dengan bikin kursus gitar privat di rumah. Untungnya biaya kuliah di UI relatif gak mahal. Saya memenuhi janji kepada orangtua, dengan tidak mau merepotkan mereka, dari beli rumah sendiri, beli mobil, biaya pernikahan, dan adik saya yang paling kecil pun saya biayai kuliah S-1 hingga selesai di salah satu universitas swasta. Kalau bukan pertolongan Tuhan, rasanya semua ini mustahil.

Karir pertama saya sebagai Staf Personalia yang mengurusi penggajian karyawan harian di pabrik furniture besar di Bogor, Olympic. Kemudian dari situ, saya menjadi Staf Akunting di suatu perusahaan jual beli baja di Jakarta. Dari situ, saya mencoba jadi Sales Asuransi Jiwa, dan “terjebak” masuk perusahaan pialang abal-abal. Nah, ini salah satu momen terendah dalam hidup saya. Uang calon mertua pun ludes kena “jebakan betmen” pialang abal-abal. (Saya baru ngerti permainan licik mereka dengan memasang posisi lawan dari para pialang pemula. So, teman-teman hati-hati sebelum kerja di perusahaan pialang, please cek dan ricek apakah perusahaan pialang ini terdaftar atau tidak di OJK). Sekilas kok seperti karir yang saya jalani ini gak jelas, jabatan pun pindah-pindah. Namun maaf gaes, jangan salah sangka, saya bukannya kutu loncat. Saya memang sedang mencari karir yang cocok buat saya.

Singkatnya, seperti tadi saya notice, tahun 1995-1996 adalah titik terendah dalam pekerjaan saya. Gaji tetap gak ada, karena kan jadi sales asuransi, bahkan satu polis pun gak pernah berhasil ditutup dalam setahun. Kemudian jadi pialang bursa komoditi berjangka abal-abal, yang gaji didapat hanya dari komisi transaksi semu. Dalam beberapa bulan terakhir, saya gak dapat komisi, karena posisi transaksi floating loss. Gak berani tutup posisinya, karena uang calon mertua pasti habis tinggal 10%. Di bulan-bulan tersebut, saya berakting di depan orangtua seolah-olah masih dapat gaji, padahal keadaan sebenarnya adalah gaji pacar saya Aylie (yang sekarang jadi istri saya) dibagi setengah untuk saya. Well, terus terang saya mendapatkan istri yang luar biasa dari Tuhan, sudah teruji kesetiaannya sejak masih pacaran. Dia tidak meninggalkan saya yang beneran dalam posisi “bokek”. Nah, disini saya mau bersaksi bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Janji Tuhan dalam kitab Maleakhi 3:10, itu terbukti buat saya. Meski gak dapat gaji berbulan-bulan, saya tidak pernah lalai untuk memberi Perpuluhan, saya tetap memberi meskipun dari uang yang saya dapat dari setengah gaji Aylie itu.

Janji Tuhan terbukti waktu saya akhirnya mendapatkan pekerjaan di UOBB Securities, bulan September 1996. Ceritanya ajaib dan buat saya ini mujizat.

 

 

Cerita Musik Saya Dimulai…

Saya belajar musik di usia yang “terlambat”, yaitu 13 tahun.  Saya beruntung diajari gitar oleh Guru Sekolah Minggu saya, Pdt. Andreas Gunawan (saya panggil beliau dengan panggilan ‘Ko An’), dengan tujuan agar saya dapat membantu melayani di Sekolah Minggu. Beliau hanya mengajari saya mungkin hanya 3 bulan. Itupun sepertinya mungkin beliau agak menyerah mengajari saya. Maklum, gitar saja pun belum punya. Lalu, ditambah ada temen saya bilang, “Victor mah gak bakat musik atau main gitar, kalo nyanyi, suaranya aja fals.” Memang dia benar sih, suara saya parah banget kalau nyanyi.

Well, tapi saya bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Bakat memang rada kurang, tapi untuk kemauan dan nekat, iya banget. Baru saja belajar gitar sebulan, dengan kata lain, baru tahu chord A, D, E saja, saya sudah minta diajari Ko An lagu “Bangun Pemudi Pemuda”, karena dengan ‘pede-nya’ saya mau ‘tampil’ di kelas mengiringi Vocal Grup, tugas pelajaran Kesenian.  Kalau ditanya, gimana lancar gak penampilannya? Hmm, saya tidak ingat pastinya. Yang jelas, saya sebenernya belum terlalu lancar pindah chordnya, hahaha..

Beberapa bulan kemudian, saya gak puas hanya belajar lagu gereja atau gitar yang cuma genjrang-genjreng saja.  Maka saya mendaftarkan diri untuk belajar Gitar Klasik di Kawai Music School, pada awal tahun 1984.  Saya belajar Gitar Klasik sekitar 2 tahun dengan bimbingan Kak Jassin Burhan.  Waktu itu orangtua saya gak sanggup membayar uang les kelas private.  Alhasil saya belajar dengan kelas grup yang isinya 4-6 orang, dalam waktu yang “cuma” 30 menit.  Namun demikian, saya termasuk orang yang gigih dan serius dalam belajar.  Selama SMP-SMA, saya berlatih gitar rata-rata 3-4 jam setiap hari. Saya berusaha menarik perhatian guru saya, dengan berlatih serius setiap PR yang diberikan, bahkan saya sering membaca lagu yang di halaman setelahnya daripada yang disuruh oleh Kak Jassin. Sehingga materi dasar saya habiskan dalam waktu sekitar 1-2 bulan. Saya bilang ke Kak Jassin bahwa saya sudah menguasai isi buku ini. Kak Jassin bilang, “Ok, coba saya minta kamu main lagu terakhir dari buku ini. Jika sudah bisa, kamu boleh ganti buku berikutnya.” Well, saya berhasil membuktikannya. Jadi, saya akhirnya pindah buku ke selanjutnya dalam waktu yang cukup singkat.

Sekitar akhir tahun 1985, Kak Jassin tidak mengajar di Bogor lagi, lalu saya sempat digantikan oleh guru lain (namanya pun lupa). Tapi saya tidak merasa “click” dengan guru pengganti saya itu, sehingga akhirnya saya berhenti les gitar klasik. Di tahun itu, saya mulai tertarik pada bass elektrik. Awalnya, saya sering memperhatikan senior saya di gereja, namanya Ko Iyang (Ps. Budiman Nataprawira, sekarang beliau Gembala Sidang GSJA Home, Bogor).  Saya bisa betah berjam-jam hanya memperhatikan para senior ini latihan band. Lalu, waktu itu, katakanlah semacam audisi di gereja untuk membuat grup band junior, yang nantinya diharapkan membantu melayani di Sekolah Minggu.  Karena tidak ada yang mau main bass, akhirnya saya mengajukan diri untuk main bass. Nah, itulah awal ceritanya saya tertarik main bass. Ini fotonya. Jangan tanya merk bass-nya, karena seingat saya juga tidak ada merknya, ini bikinan lokal hehehe…

gsja semboja 2

Oh ya, yang main gitar di belakang itu adalah Pdt. Andreas Gunawan, guru gitar pertama yang saya ceritakan di atas.  Foto ini diambil di gereja pertama saya, dimana saya bergereja sejak usia 4 tahun hingga 18 tahun, GSJA Ebenhaezer, Jl. Semboja 54 Bogor.