Halo, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya yang sederhana ini. Blog ini adalah seperti Buku Harian atau Catatan perjalanan karir musik saya, yang boleh dikatakan terlambat. Namun, seperti kata pepatah, “Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali.” Saya akan sharing apa saja yang saya ingat atau inginkan untuk dibagi, bisa tentang kisah lama saya, atau tentang perjalanan liburan kami sekeluarga. Semoga anda menyukainya. God bless you!

The aim and final end of all music should be none other than the glory of God and the refreshment of the soul.
— Johann Sebastian Bach
I’m a Session Player, any events and music, from Pop to Jazz, I play in any church as well. I play any bass, from Acoustic Bass (Contrabass) to Electric Bass, from Fretless to Fretted. I can write and read music notation, I do music arrangement for bands, ensemble and orchestra as well. If you interest with me, please call my number below. Thank you.
Victor Pandiwijaya, Whatsapp (+62) 0888-0901-2126
vicpandiwijaya@gmail.com

About Me and My Family
I am an ordinary man, friend of God, family guy, bass enthusiast, food explorer, and dog lover. Saya seorang musisi yang berdedikasi, bermain musik Pop hingga Jazz di berbagai event, dan juga melayani Tuhan dengan bermain musik di gereja. Meskipun saya sekarang sebagai pengajar musik di Kania Music School dan Sjuman School of Music, dan trainer di gereja lokal saya, GBI Danau Bogor Raya (Rayon 7 Bogor), kemudian juga di berbagai denominasi gereja, namun saya lebih senang tetap merasa menjadi Murid, karena saya masih belajar dan berlatih terus hingga sekarang. Saya pun suka menulis dan juga mengaransir musik, baik dalam bentuk band, ensemble, hingga orkestra.
Saya dapat bermain dalam format solo, duet, trio, quartet, hingga orchestra. Instrument utama saya adalah bass. Saya dapat memainkan berbagai bass, mulai dari acoustic bass hingga electric bass. Instrument utama kedua saya adalah gitar. Saya lebih fasih bermain gitar akustik, baik yang berdawai nylon atau steel. Pengalaman pertama saya bermain dalam orkestra adalah di Galilea Orchestra, yang bernaung di GKI Samanhudi, Jakarta, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Kemudian saya juga bermain untuk Aksan Sjuman Fantasia Orchestra, sejak tahun 2011. Saya pun bersyukur saat kuliah di IMDI, mendapatkan kesempatan untuk tampil di Java Jazz Festival, yaitu bersama Jakarta Broadway Singers (2009), dan juga TJNDD Trio with Dip’ah (2010). Saya juga mendapatkan kesempatan berharga selama sekitar setahun bermain bass untuk Julian Marantika Trio, dan kami pernah tampil di Ambon Jazz Festival 2010, Jazzvaganza 2010, dan Jazzlocafore 2011.
Awalnya saya belajar gitar dengan bimbingan Pdt. Andreas Gunawan, untuk mengiringi lagu sekolah minggu di gereja. Lalu saya belajar gitar klasik dengan Kak Jassin Burhan. Kemudian saya beralih belajar bass elektrik secara otodidak. Pada usia 28 tahun, saya baru belajar bass elektrik dengan bimbingan Mas Bintang Indrianto, meski hanya 1-2 bulan saja. Lalu saya melanjutkan belajar bass elektrik dengan Ko Sigit, dalam waktu cukup lama, sekitar setahun. Selebihnya, saya melanjutkan belajar otodidak dari berbagai buku bass saja.
Pada usia 36 tahun, barulah saya belajar musik secara formal. Saya mendaftar, diuji, dan akhirnya diijinkan menempuh kuliah musik di Institut Musik Daya Indonesia (IMDI). Saya belajar contrabass, sebagai major instrument dengan bimbingan Doni Sundjoyo dan Indra Perkasa. Saya juga belajar piano sebagai minor instrument dengan bimbingan Julian Marantika, Jelia Megawati Heru, dan juga Nathania Karina. Saya belajar juga rhythmic dengan bimbingan Titi Rajo Bintang, Aksan Sjuman, dan Sandy Winarta. Saya beruntung juga belajar orchestration dengan bimbingan Ibu Tjut Nyak Deviana Daudsjah, Indra Perkasa, dan Aksan Sjuman. Selama di IMDI, saya juga mendapatkan kesempatan dibimbing oleh Mery Kasiman, Nikita Dompas, Dion Janapria, dan Angga Tarmizi, untuk kelas mata kuliah lainnya. Belajar musik di usia yang tidak muda lagi, ternyata cukup berat tantangannya. Saya bisa bilang bahwa kuliah musik itu lebih sulit daripada kuliah ekonomi. Kok bisa? Selain harus disiplin latihan instrument tiap hari berjam-jam, kita juga harus belajar music theory yang lumayan susah, lalu literatur sejarah musik, pedagogy, music business, sosiology, dan masih banyak beberapa subjek lagi, totalnya 20-an mata kuliah di IMDI. Thank God, akhirnya pada usia 40, saya lulus Bachelor of Music, suatu hal yang tadinya adalah hanya mimpi buat saya.
Pengalaman saya menjadi Trainer Musik di gereja, awalnya simple. Pada saat usia sekitar 17 tahun, saya diajak Pdt. Andreas Gunawan untuk melayani di gereja perintisan GSJA Ichthus, Kemang – Parung. Dengan sukacita, saya belajar melayani, mengajar gitar dan juga ensemble angklung untuk anak-anak Sekolah Minggu. Kemudian pada tahun 1994, saya bekerja di Jakarta, ketemu Ay Lie (istri saya sekarang), lalu saya pindah ke gereja GSJA Teluk Gong dan melayani sebagai Ketua Dept. Profetik selama sekitar 3 tahun. Kami menikah tahun 1999, lalu setelah memiliki anak tahun 2002, kami kembali pindah ke Bogor, dan saya pun pindah ke GSJA Betlehem Bogor, lalu menjadi Ketua Bagian Pujian Penyembahan sekitar 1-2 tahun. Tahun 2006 merupakan turning point bagi saya, kairos Tuhan buat saya, karena saya memutuskan berhenti bekerja sekuler, kemudian menjadi staf fulltime di GSJA Betlehem, sebagai Direktur dari Sekolah Musik Psallo, sekolah milik GSJA Betlehem. Sahabat saya, Ps. Arif Multi membukakan banyak pintu kesempatan dan pelayanan. Meski saya belum menjadi pendeta, ia memberikan saya kesempatan masuk dalam jajaran kepengurusan BPD GSJA Jabar. Pada tahun 2007-2011, saya menjadi Bendahara dari Departemen Pujian Penyembahan sekaligus Trainer bagi gereja-gereja GSJA se-Jawa Barat, yang mencakup 5 wilayah kerja, yaitu Bogor, Depok, Sukabumi, Bandung, dan Pantura. Dalam setahun, sedikitnya 5-6 kali saya menyiapkan materi pengajaran dan berkeliling melatih para pemusik GSJA se-Jawa Barat. Pengalaman mengajar di berbagai gereja, membuat saya memiliki pengalaman untuk menilai dan meng-identifikasi masalah-masalah seputar pengelolaan Praise & Worship yang sering dihadapi oleh gereja pada umumnya. Saya juga mencoba merintis website yang berisi pengajaran seputar Praise & Worship. Silakan mengunjungi http://www.worshippedia.com
Saya hidup sederhana dengan 2 orang wanita yang cantik dan membahagiakan saya, yaitu istri saya Ay Lie, dan anak saya Kayleen. Saya bersyukur memiliki mereka dalam hidup saya. Kami senang travelling bersama, menikmati perjalanan dan makanan baru. Sejak tahun 2014, saya melayani Tuhan di gereja lokal GBI Rayon 7 dan memiliki komunitas, banyak teman-teman gereja yang luar biasa. What a simple and beautiful life. Thank you Jesus, You’re everything in my life.
