Bagian ini saya akan sekedar bercerita semua tentang bass, instrument musik yang menjadi media untuk mengekspresikan ide musik saya.
My First Bass
Ok, saya mau ceritain tentang bass pertama saya. Mungkin sebagian besar tidak percaya, kalau saya baru bisa beli bass benar-benar dengan uang sendiri itu saat berumur 28 tahun. Sebelum itu, sejak dari masa belajar main bass, ya saya selalu pakai bass gereja, atau pinjem bass temen (drummer saya semasa SMA, namanya Gannes – drummernya Oppie Andaresta, berbaik hati bisa kasih pinjem bass Yamaha BB300 nya sampai berminggu-minggu). Kok bisa gitu? Simpel jawabannya. Sebelum umur itu, saya beneran sulit punya tabungan. Uang kuliah pun bayar sendiri (kalau tidak, ya tidak bisa kuliah). Pekerjaan pun belum punya karir yang jelas, masih mencari-cari. Saya sudah punya berbagai pengalaman pekerjaan, mulai jadi Staf Personalia yang mengurusi gaji para buruh pabrik, lalu jadi Staf Akuntansi yang mengurusi restoran, kemudian sempat jadi Agen Asuransi Jiwa yang tanpa gaji tetap, hanya berharap pada komisi, kemudian mencoba jadi pialang komoditi (yang belakangan saya baru tahu, ini investasi bodong, dan saya sudah bikin rugi calon mertua). Wah, cukup panjang jika mau diceritakan detil (Nanti deh suatu waktu saya tulis sebagai kesaksian). Untungnya, dengan pertolongan Tuhan yang ajaib, September 1996 saya diterima kerja di UOB Securities Indonesia (d/h UOBB Securities). Nah, barulah bisa pelan-pelan punya tabungan.
Singkat cerita, Indonesia mulai dilanda Krismon (Krisis Moneter) pada Januari 1998, Rp/USD yang tadinya tenang di Rp 2000-an, tiba-tiba di bulan itu “terbang” ke Rp 11.000-an. Teman sepelayanan saya di Full Gospel Bogor, Andy Guyana bilang,” Tor, kalo elo mau beli bass, mending sekarang. Sebagian besar alat musik di Jakarta sudah mulai naekin harga. Gua udah cek, cuma di Bandung yang masih belum naek tuh. Yuk kita ke Bandung untuk belanja bass.” Waduh, langsung deh “panic mode on”. Saya dari dulu memang udah ngincer mau beli Fender Stu Hamm yang Made in Korea aja, seharga sekitar Rp 1.8 juta-an, atau pokoknya bass dengan budget maksimum Rp 2 juta aja, karena belum sanggup beli yang bikinan Amrik.
Gak nunggu lama, beberapa hari kemudian Andy dan Saya langsung menuju Bandung ke Toko Nada, dimana infonya harga alat musik di toko itu masih pakai “harga lama”. Eh, pas sampai sana, rupanya tepat jam 12 siang, dimana toko ini mau tutup istirahat siang (tipikal toko jadul, bossnya mau istirahat siang). Temen saya Andy, yang cukup fasih dengan kota Bandung, langsung ajak saya ke Toko Tiga Negeri, sekedar “ngisi waktu” hingga jam 3 sore Toko Nada kembali buka. Whoaa… gak disangka, di toko ini rupanya jualan juga bass seken, di sela-sela Ibanez, Fender, eh ada nyelip Tune Bass Maniac.. tampilannya begitu memukau, waktu itu gak tahu jenis kayu apa yang bikin bass ini sampai berlapis-lapis, yang saya tahu cuma ini natural finished, gold hardware dan dibungkus dengan leather original gigbag.

Terus terang, bass ini mengingatkan saya pada saat berusia 18 tahun. Waktu itu saya masih SMA, seperti biasa kita ada pentas seni tahunan, dimana saya pasti ngisi acara band. Eh, saat itu saya inget banget, teman SMA saya namanya Agus, pakai bass yang super keren, “pake batere” katanya.. woow… kok bisa ya? (komentar anak ingusan, gak tahu kalo ini active bass with preamp). Kurang lebih, ini gambaran bassnya Agus, yang saya inget warnanya biru. Waktu itu, jujurnya saya bilang sama Tuhan seperti ini,” Tuhan, saya mau dong, punya bass seperti Agus. Kalau sampai punya, saya akan pakai untuk pelayanan.” Doa simpel, yang waktu diucapkan pun rasanya gak terlalu yakin, gimana caranya bisa punya bass ginian, pasti mahal banget kan? Elo mana punya duit, Tor..! Mimpi ya.
Nah, sekarang gimana kalau favor Tuhan terjadi atas dirimu? Tuhan ternyata dengar loh ucapan doa saya. Saya jadi teringat juga kalau dulu suka menabur saat gereja saya membutuhkan alat musik, melalui janji iman atau persembahan. Tuhan itu gak pernah lupa untuk membalas setiap hal yang kita tabur dengan tulus hati. Saya benar-benar ingin menangis dan takjub akan kebaikan Tuhan, karena sekarang benar-benar Tune Bass Maniac ada di depan saya. Bahkan ini yang custom series, setahunan kemudian setelah baca katalog Tune Bass, saya baru ngeh kalau punya saya itu spec nya sama dengan Yoshihiro Naruse – bassist Casiopea, yaitu pakai EMG pickups dan ada notch filter-nya. Si penjual bilang, kalau bass ini sudah lebih dari sebulan, gak laku-laku, karena ada seorang bapak nitip jual, karena awalnya bapak ini beli bass ini langsung dari Jepang buat hadiah anaknya. Tapi ini anak gak suka sama bass Tune ini. Waalah… bass bagus gak laku-laku lebih dari sebulan. Wah, beneran Tuhan hold ini bass buat saya. Tiap kali melihat bass ini, saya cuma terkagum akan rencana Tuhan buat hidup saya. Sudah 21 tahun saya mainkan bass ini. Bass ini tentunya tidak akan saya jual, karena mengingatkan bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh ajaib, Ia juga Bapak yang baik, Ia mendengar dan tahu akan kebutuhan anak-anakNya. Thank you Jesus!

